Ulin Nuha Mahali

Bicara Tentang Hidup dan Manajemen Menjalaninya

Sabtu, November 27, 2010

ADA

ada yang baik, muncul dari setiap yang buruk.

jangan di pahami dengan sepintas. tapi perlu perenungan dan ketelatenan merunut alur berpikir.

Selasa, November 23, 2010

BELAJAR LAGI

belajar, belajar lagi

ada banyak hal yang harus kita pelajari. masih banyak hal.

Jumat, November 12, 2010

IKUT BINGUNG

buat film tak semudah yang dipikirkan. baru bedah skenario saja sudah mulai loyo. belum lagi mikir shot dan mikir gimana cari musik iringannya.

emang enak tidur dan makan. buat film, kalau emang gak hobi dan bukan pada jalurnya, amat amat gak enak.

film durasi pendek yang pingin digarap sama teman-teman di MKD buat kita semua kelimpungan ngurus segala macamnya. termasuk gimana ambil gambar dan menyiasati tempat pengambilan gambar.

Rabu, November 10, 2010

PADA GILA!

Baru saja teman-teman menemukan progam. progam itu adalah progam gawan dari notebook. tapi tidak pernah diinstal sebelumnya. maka, kemarin waktu nginstal dan coba-coba, progam itu diinstal. ya, sudah coba-coba buka progam itu. tahu kegunaan progam itu, teman-teman senang bukan main.


progam itu adalah progam untuk buar vidio dari webcame di nootbook. lumayan asyik lah kalau buat narsis-narsisan dan buat main-main. malah ada yang sempat inisiatif di up load di youtube.

tapi dari maina-main itu, teman-teman seperti lupa. entah itu lupa pada pekerjaan, lupa pada masalah-masalah yang membeban selama ini, atau lupa sama teman sendiri. parahnya, karena keasyikan dengan mainan itu, semua pada lupa pada imej diri yang sudah dibentuk dan dijaga selama ini.

kalau diikir-pikir memang parah. nggak tahu juga, dampak seperti ini lama atau tidak. yang saya khawatirkan, kadang, kalau benar-benar diupload di youtube, karakter yang sudah terbangun selama ini, kemungkinan besar akan rusak.

tapi entahlah, kok saya jadi menanggapi ini sebagai hal yang serius. padahal awalnya kan hanya main-main. mungkin ini refreshlah buat mereka. juga saya sendiri.

hanya saja, perlu diingat. awas mainan yang berbahaya!

terakhir timbul pertanyaan dalam hati saya, apakah begini cara manusia menyikapi hal-hal baru?
wallahua'alam[]


Jumat, November 05, 2010

BEBERAPA PUISI LAMA SAYA

Buta

Adakah sampai saatnya
Bentangan langit menyempit
Lalu mengucil pada sisi sendiri
Sebab meluas harap
Jatuh di pandang?

Atau indah alam mengagumkan
Melebur
Sebab indah di maha yang maha indah?

Tapi sungguh
Mataku masih buta
Adakah rohmat arrobbaniyyah
Berkenan membukakannya?
17 jul. 10



Sebenarnya Hidup

Bukan di tepi samudra
Lantas diam menunggu cerita
Ada ikan di lidah perasa

Bukan pula pagi
Menyusup harapan jadi
Hilang lapar tak terperi

Tapi hidup bukan pandangan
Juga bukan harapan
Karena ia bayangan sorot cahaya
Yang tiba-tiba

Aku meringis
Melihat harapan ditepis
Dibuang di sembarang ladang
Dikubur di sembarang tanah kabur

Mengapa tidak ditanam di ladang-ladang potensial
Agar ikan sampai di lidah perasa
Agar lapar hilang di waktu pagi?

Adalah kepadamu aku salah berucap?!
Blokagung, 5 Februari 2010


Atau Aku, Atau Bunga

Adalah aku tak pandai berucap
Kuncup bunga mekar tak menebar wanginya
Atau telah hilang wangi menahun mekar tak jadi?

Tapi ah, aku memang salah
Tak kutengok bunga hingga mekarnya
Tak kutanya mengapa sekian baru mekar

Atau tak lagi hirau bunga pada wangi
Atau aku yang lupa bunga wangi?

Blokagung, 5 Februari 2010


Mengapa Tak Kau Coba?

Cobalah mendengar gemerisik hujan
Katanya ada padanya kesunyian
Sedang tentu pekak telinga oleh ricuh gemerisiknya
--sebab kau tak suka--

Tapi apa salah dicoba
Sedang kulihat hujan diam di tepi Januari
Ia begitu tenang pada titiknya?

Tapi sungguh, kau telah berkata
“Lihat, bajuku basah!”

Blokagung, 5 Februari 2010

Label:

BERKESAH, PADA SIAPA?

Beberapa kali, setidaknya satu bulanan ini, tak ada lagi kamera di media yang saya pegang. Tahu sendirilah kalau media koran tak ada kameranya. Otomatis tak ada gambar yang bisa nampil di media itu. Lebih-lebih orang-orang yang nulis juga pada males-males nih. Gak males sih, tapi gak mau nulis. Jadi ya, meja redaksi kosong.
Pengeditnya yang bingung kemudian. Bagaimana ini?


Ya sudahlah. Masalah itu memang tak ada habisnya. Mungkin karena itu, kesejahteraan belum benar-benar terjamin. Sejak berdirinya media yang saya pegang, saya sudah mengusahakan dengan kemampuan saya untuk ‘nggaji’ wartawan-wartawannya. Tapi memang karena sayanya yang mungkin karena jleng untuk lobi-lobi dan banyak hal lain, maka ya, sampek hampir setahun ini belum juga saya dapat merielkan keinginan saya itu.
Medianya memang media pesantren. Banyak keuangan yang harus dialirkan pada kegiatan-kegiatan pesantren yang—mungkin lebih atau dianggap lebih—berguna.
Kadang, dalam kesepian yang saya alami, saya bertanya pada diri saya sendiri, untuk apa ngotot mengeksiskan media kalau tidak siap untuk dana. Ada juga pertanyaan nylekit dari diri saya. Saya lebih mengartikan pertanyaan itu sebagai pemberontakan atas ketertekanan yang saya alami selama ini. Pertanyaan itu adalah, apa memang saya adalah korban keambisiusan pesantren memiliki media yang terbit secara intens.
Saya memang merasakan hal itu. Beberapa kali juga saya membicarakan hal ini kepada orang-orang yang cukup dekat dengan saya. Jawabannya berfariasi. Seorang teman dekat yang tak suka main-main perasaan mengatakan, “Ya memang begitu. Untuk mewujudkan sesuatu harus ada ambisi. Kalau tidak, ya tak ada apapun.”
Benar juga. Tapi ambisi itu bukan ambisi saya. Tapi ambisi orang lain. Itulah yang mungkin memaksa saya untuk merasa tertekan dengan kondisi yang ada sekarang.
Jawaban lain saya dapatkan dari orang yang sering membuat saya berpikir sebelum menemukan tafsir dari jawabannya. Jawabannya demikian, “Lihatlah langit! Di sana ada awan, ada layang-layang (kala itu memang sedang musim layang-layang), ada burungnya. Bagus ya? Kalau hanya langit saja tidak akan indah. Harus ada burungnya, harus ada awannya, juga ada layang-layangnya?”
Beberapa kali berpikir, saya memang mengerti maksud jawaban tersebut. Tapi kemudian saya kembali bertanya, saya ini termasuk burungnya, layang-layangnya, atau awannya?
Jawabannya belum dapat saya temukan. Tapi mengingat ada hadits agama ini juga dikuatkan oleh orang-orang yang fasik, saya bersedih. Sayakah orang fasik yang menjadi bahan penguat agama itu?
Embohlah, tapi saya harap proses akan memberikan saya alasan, bahwa saya pernah berusaha untuk menjadi orang baik lewat kecimpung dan kemumetan yang saya alami di media yang saya pegang.
Blokagung, 5 Nopember 2010

Label:

Senin, November 01, 2010

TIMBANG DULU, KANG, MBAK!

ada baiknya menimbang beberapa kali sebelum melangkah lebih jauh. meskipun hanya untuk menerbitkan buletin yang terbit hanya selembar f4 bolak-balik.

Seorang teman, berbicara kepada saya, instansi tempatnya ngetem, ingin menerbitkan buletin. yah, bacaan kecil-kecilan lah. selain juga sebagai media publikasi instansi tersebut. saya kurang tahu benar, mengapa harus ... atau haruskan buletin itu diterbitkan. melihat ada buletin yang sudah cukup dikenal di sekitar instansi tersebut, dan tentunya bisa kalau hanya untuk diajak kerja sama.

teman saya tersebut diminta untuk ngurusi lay out buletin itu. saya jadi tahu, mengapa beberapa hari ini ia selalu bertanya terkait lay out media, buletin itu.

mengerti demikian, akhirnya saya memberikan pemahaman kepada teman saya, bahwa untuk menerbitkan media, tidak cukup mudah. mudah memang mengawalinya. tapi tidak untuk konsisten dan menjaganya tetap eksis. maka ada banyak pertimbangan sebelum buletin tersebut benar-benar terbit nantinya.

selain itu, saya juga berbagi sedikit wawasan terkait hal-hal pra launching media tersebut. ada banyak yang harus dijelaskan terlebih dahulu. satu, arah buletin tersebut harus jelas. sasaran atau pembaca yang bidik harus sudah ditentukan. saya katakan, dengan kejelasan arah tersebut, kita akan lebih mudah menentukan isi tulisan yang akan dimuat. serta menu apa saja yang akan menjadi hidangan wajib dalam buletin itu.

lantas diakhir perkataan, saya menegaskan kembali. menerbitkan buletin atau media itu gampang. tapi belakangnya yang sulit. kekonsistenan itu.

tapi, walau bagaimanapun juga, semoga kita bisa. doamu, dan doaku, semoga bisa membuat allah berkenan menurunkan rohmatnya.

Label: