BEBERAPA PUISI LAMA SAYA
Buta
Adakah sampai saatnya
Bentangan langit menyempit
Lalu mengucil pada sisi sendiri
Sebab meluas harap
Jatuh di pandang?
Atau indah alam mengagumkan
Melebur
Sebab indah di maha yang maha indah?
Tapi sungguh
Mataku masih buta
Adakah rohmat arrobbaniyyah
Berkenan membukakannya?
17 jul. 10
Sebenarnya Hidup
Bukan di tepi samudra
Lantas diam menunggu cerita
Ada ikan di lidah perasa
Bukan pula pagi
Menyusup harapan jadi
Hilang lapar tak terperi
Tapi hidup bukan pandangan
Juga bukan harapan
Karena ia bayangan sorot cahaya
Yang tiba-tiba
Aku meringis
Melihat harapan ditepis
Dibuang di sembarang ladang
Dikubur di sembarang tanah kabur
Mengapa tidak ditanam di ladang-ladang potensial
Agar ikan sampai di lidah perasa
Agar lapar hilang di waktu pagi?
Adalah kepadamu aku salah berucap?!
Blokagung, 5 Februari 2010
Atau Aku, Atau Bunga
Adalah aku tak pandai berucap
Kuncup bunga mekar tak menebar wanginya
Atau telah hilang wangi menahun mekar tak jadi?
Tapi ah, aku memang salah
Tak kutengok bunga hingga mekarnya
Tak kutanya mengapa sekian baru mekar
Atau tak lagi hirau bunga pada wangi
Atau aku yang lupa bunga wangi?
Blokagung, 5 Februari 2010
Mengapa Tak Kau Coba?
Cobalah mendengar gemerisik hujan
Katanya ada padanya kesunyian
Sedang tentu pekak telinga oleh ricuh gemerisiknya
--sebab kau tak suka--
Tapi apa salah dicoba
Sedang kulihat hujan diam di tepi Januari
Ia begitu tenang pada titiknya?
Tapi sungguh, kau telah berkata
“Lihat, bajuku basah!”
Blokagung, 5 Februari 2010
Label: sekedar berpuisi

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda