Ulin Nuha Mahali

Bicara Tentang Hidup dan Manajemen Menjalaninya

Jumat, November 05, 2010

BEBERAPA PUISI LAMA SAYA

Buta

Adakah sampai saatnya
Bentangan langit menyempit
Lalu mengucil pada sisi sendiri
Sebab meluas harap
Jatuh di pandang?

Atau indah alam mengagumkan
Melebur
Sebab indah di maha yang maha indah?

Tapi sungguh
Mataku masih buta
Adakah rohmat arrobbaniyyah
Berkenan membukakannya?
17 jul. 10



Sebenarnya Hidup

Bukan di tepi samudra
Lantas diam menunggu cerita
Ada ikan di lidah perasa

Bukan pula pagi
Menyusup harapan jadi
Hilang lapar tak terperi

Tapi hidup bukan pandangan
Juga bukan harapan
Karena ia bayangan sorot cahaya
Yang tiba-tiba

Aku meringis
Melihat harapan ditepis
Dibuang di sembarang ladang
Dikubur di sembarang tanah kabur

Mengapa tidak ditanam di ladang-ladang potensial
Agar ikan sampai di lidah perasa
Agar lapar hilang di waktu pagi?

Adalah kepadamu aku salah berucap?!
Blokagung, 5 Februari 2010


Atau Aku, Atau Bunga

Adalah aku tak pandai berucap
Kuncup bunga mekar tak menebar wanginya
Atau telah hilang wangi menahun mekar tak jadi?

Tapi ah, aku memang salah
Tak kutengok bunga hingga mekarnya
Tak kutanya mengapa sekian baru mekar

Atau tak lagi hirau bunga pada wangi
Atau aku yang lupa bunga wangi?

Blokagung, 5 Februari 2010


Mengapa Tak Kau Coba?

Cobalah mendengar gemerisik hujan
Katanya ada padanya kesunyian
Sedang tentu pekak telinga oleh ricuh gemerisiknya
--sebab kau tak suka--

Tapi apa salah dicoba
Sedang kulihat hujan diam di tepi Januari
Ia begitu tenang pada titiknya?

Tapi sungguh, kau telah berkata
“Lihat, bajuku basah!”

Blokagung, 5 Februari 2010

Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda