Ulin Nuha Mahali

Bicara Tentang Hidup dan Manajemen Menjalaninya

Rabu, Juli 01, 2009

Novel, Cerpen, di Mata Saya


Untuk yang kesekian kali, saya dihadapkan pada sesuatu yang terasa berat di hati saya. Kembali diperdengarkan di telinga saya, mengarang novel, cerpen, serta karangan-karangan lain yang bersifat imajinatif, divonis haram dalam Kitab Ihyak. Terlebih mengarang syair dan hal-hal yang masih berbau sastra. Tentu masuk ke dalam katergori tersebut, puisi.

Alasan diharamkannya, adalah karena adanya unsur kidzib di dalamnya. Unsur kebohongan yang selama ini menjadi keharaman paling masyhur dalam Hukum Islam.

Jika kemudian, seorang Habiburrohman El Shirezy semisal, beralasan ingin memasukkan nilai-nilai keislaman dalam hasanah sastra berupa novel, cerpen, dan karya-karya sastra lain, bukan berarti alasan demikian bisa menafikan keharaman yang telah dilekatkan pada penulisan novel, cerpen, dan karya sastra lain yang tidak nyata adanya.

Kapan boleh? Kalau sudah tidak ada cara lain menyampaikan nilai-nilai keislaman selain lewat penulisan novel, cerpen, dan karya sastra yang lain. Sedang dikuatkan bahwa, masih ada jalan lain untuk menyampaikan nilai keislaman selain lewat novel, cerpen, dan karya-karya sastra lain.
Pernyataan terakhir itulah yang kemudian menutup rapat ketidakharaman menulis novel, cerpen, dan karya-karya sastra lain.

Hukum ini senada dengan hukum berbohongan yang menjadi alasan diharamkannya kepenulisan novel, cerpen, dan karya sastra lain. Dijelaskan bahwa berbohong boleh, asal ada nilai kemaslahatan dan menjadi satu-satunya jalan untuk mencapai kemaslahatan yang dimaksud. Bila ada jalan menuju kemaslahatan yang lain, otomatis, berbohong diharamkan.
Saya tegaskan sekali lagi, bila ada jalan lain, otomatis, berbohong diharamkan! Lepas dari pengetahuan saya, apakah hukum ini mutlak dan sudah mencapai final, atau sekedar hukum mentah yang sekedar ingin disuarakan.

Kembali ke sastra dan penulisan novel, cerpen, serta karya sastra yang lain.

Dengan lapang dada saya menerima hukum tersebut. Sungguh, saya menerima hal itu dengan sangat legawa saat hal itu kembali diperdengarkan di telinga saya. Bagaimana bisa saya ngeyel tetap memperbolehkan hukum menulis novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, kalau vonis yang diperdengarkan di telinga saya adalah vonis yang memiliki tendensi nggenah dan referensi hukum yang valit?

Bagaimanapun juga saya harus menerimanya dengan legawa. Dengan alasan apapun. Tanpa ada lagi bantahan. Karena jelas, vonis tersebut adalah vonis yang bukan sekedar bohong-bohongan atau sekedar omong kosong belaka.

Bukankah berbohong haram hukumnya, seperti yang telah disebutkan di atas? Maka tidak mungkin saya dibohongi dengan memperdengarkan hukum tersebut pada saya.

Namun, meski demikian, apakah saya bisa diam menahan, melihat kenyataan dan segala hal yang bertentangan dengan nurani saya, terlihat jelas di depan mata saya sendiri?

Bahwa dengan jelas saya melihat, ada orang-orang yang pengetahuan agamanya lebih minim dari pengetahuan agama yang saya miliki. Mereka menyukai film. Mereka menyukai novel, menyukai cerpen, menyukai puisi. Mereka menjadikan novel, cerpen, dan karya sastra yang lain sebagai hidup mereka. Tempat mereka menghabiskan masa dan mencari sesuatu dalam hidupnya.

Bahwa di sana, mereka menjalani hidup, memandang hidup berdasar apa yang mereka lihat di film, berdasar apa yang mereka baca di novel, cerpen, dan karya sastra yang lain. Mereka menjadikan prilaku-prilaku pemainnya sebagai acuan mereka berprilaku dalam kehidupannya.
Saya tak bisa menutup mata dari orang-orang seperti mereka.

Kalau berkenan, sedikitlah orang-orang pesantren membelalakkan mata!

Sesungguhnya, orang-orang seperti mereka, yang kehidupannya tak pernah lepas dari film, yang menjadikan novel, cerpen, dan karya sastra yang lain sebagai hidupnya, juga berhak dijamah oleh agama. Mereka berhak mendapat apa yang didapat orang-orang pesantren. Apa telah lupa islam agama rohmatan lil ‘alamin? Atau sekedar melupa?

Kalau boleh saya menganalogkan, saya, sebagai orang yang suka menulis novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, memposisikan diri sebagai restouran siap saji yang juga menyediakan dawet, beras kencur dan cenil sebagai nilai-nilai agama yang tak pernah mereka rasakan. Mereka, orang-orang yang kehidupannya tak pernah lepas dari film novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, adalah konsumen setia restouran siap saji tersebut.

Sungguh, tanpa klaim saya, bahwa saya adalah restouran siap saji, tak akan sedikitpun mereka masuk ke dalam restouran saya. Bahkan, menolehpun tidak. Lantas, bila demikian yang terjadi, kapan mereka hendak mengerti ada cenil yang rasanya enak? Kapan mereka mengerti ada dawet yang rasanya manis? Kapan pula mereka akan mengerti ada beras kencur yang segernya minta ampun?

Coba dipikir, kapan hal demikian akan terjadi? Menunggu kabar dari langit? Atau menunggu Allah menurunkan keajaiban-Nya sedang keajaiban Allah digantungkan pada tangan manusia?
Atau kalau masih boleh saya mengambil contoh, bukankah Darussalam juga memiliki prinsip yang demikian. Lima tahun saya berada di sini, saya mengerti Darussalam tak apatis terhadap janger, jaranan, wayang kulit, bahkan orkesan dengan artisnya yang lumayan mengundang syahwat. Darussalam tak apatis terhadap yang demikian. Alasannya, inilah cara mengenalkan pesantren pada orang-orang yang tak pernah mengerti pesantren. Mungkin saja, setelah mereka kenal, mereka mau ikut dan mendalami nilai-nilai agama di pesantren. Begitu bukan?
Tentang kebohongan yang ada dalam novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, apakah benar demikian?

Benar. Novel, cerpen, dan karya sastra yang lain memang mengada-ada. Dan itulah karangan, buah karya imajinasi dan pikiran mereka. Hasil mereka yang mau mendengar, melihat dan mau berpikir untuk kemudian menulis atau menyuarakan hasil proses mereka berpikir, mengikuti firman Tuhan, afala tatafakkarun, yang sejatinya perintah untuk manusia agar ia mau berpikir.
Sungguh, memang demikianlah novel, cerpen, dan karya sastra yang lain. Karangan, mengada-ada, dan hasil imajinasi manusia.

Lantas, apakah dengan demikian penulis-penulisnya melakukan kebohongan?

Begini. Setiap orang yang hendak membaca novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, tanpa diberitahupun dia akan tahu, bahwa itu adalah karangan. Apa-apa yang terjadi adalah karangan dan imajinasi belaka. Hanya kadang, terlihat persis seperti kehidupan nyata, karena dalam penggarapnnya ada proses pembumian novel, cerpen, dan karya sastra yang lain terhadap kehidupan asli. Dimaksudkan dengan hal ini, nilai-nilai yang disampaikan lebih mengena pada diri pembaca.

Kebohongan apa yang saya dan mereka perbuat, kalau dengan jujur saya dan mereka katakan, ini adalah karya fiksi kami, karya hasil imajinasi kami, karya hasil pikir kami terhadap apa yang kami lihat, apa yang kami dengar, apa yang kami pikirkan, dan apa yang kami rasakan?
Kebohongan macam apa yang kami perbuat? Kebohongan kami berimajinasi? Kebohongan kami mengeluarkan hasil pikir kami? Atau kebohongan dan kesalahan kami mengulurkan tangan pada mereka yang menjadikan novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, sebagai kehidupannya?

Baru dua tahun perjalan kepenulisan saya mulai. Sejak saat itu pula, banyak orang-orang terpandang yang menyesalkan, mengapa saya menjadi seorang penulis, menjadi seorang yang suka menceritakan-cerita bohong, cerita-cerita karangan yang tak pernah terjadi dalam kehidupan.

Dan memang demikian. Saya adalah penulis yang suka menulis fiksi (meski tidak menutup kemungkinan, saya juga menulis nonfiksi). Bagaimana saya tidak menulis cerita yang tak pernah ada jika saya menulis kejadian-kejadian yang tergambar dalam kepala saya, kejadian-kejadian yang saya rangkai sendiri, fiksi itu sendiri? Dan bukan menulis kehidupan asli seseorang atau kisah-kisah penuh hikmah yang dialami oleh para sahabat nabi?

Apa yang tergambar dalam pikiran saya bukanlah kejadian yang mereka alami. Sekali lagi, ini adalah fiksi. Hanya fiksi. Karangan saya. Imajinasi saya. Kejadian-kejadian yang saya rangkai untuk mengapreasikan nilai keilmuan dan pandangan saya tentang sesuatu, khazanah keislaman yang ingin saya sampaikan pada mereka orang orang yang menjadikan novel, cerpen, dan karya sastra yang lain sebagai kehidupan mereka.

Kerikil di bawah kaki saya memang terlalu tajam untuk telapak kaki saya.

Kalaupun niat saya belajar perduli pada mereka yang menjadikan novel, cerpen, dan karya sastra yang lain, sebagai kehidupannya, adalah salah, semoga Allah segera meluruskan niat saya! Dan semoga selalu Ia meluruskan niat saya!

Masalahnya hanya dimana dan siapa orang-orang yang harus kita berikan uluran tangan. Masing-masing memiliki karakter dan cara tersendiri untuk mengulurkan tangan pada mereka.
Bukankh seharusnya kita saling memahami peran, untuk kemudian saling menguatkan. Toh, tujuan akhirnya tetap sama. Nilai-nilai Islam bisa dimana saja disuarakan. Dimana saja diuraikan. Dalam novel, cerpen, terang atau berupa bersitan-bersitan nyata.

Sesungguhnya tak ada kesesatan bagi orang-orang (penyair-penyair) yang beriman, beramal saleh, dan banyak menyebut Allah.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda