Ulin Nuha Mahali

Bicara Tentang Hidup dan Manajemen Menjalaninya

Rabu, Juni 24, 2009

puisi SABANA 20 juni 2009

Tirtamu

Tirtamu jatuh di tubuhku
Adalah lautan yang mengering
Sedang desah
masih menyisakan rindu
di sela paru-paruku

kucoba menelisik semak di hatimu
tapi pasrah
aku adalah melata tak ber-apa

tak jua aku pahami
saat-saat kau turunkan tirta itu

maka biarlah
denga tak ber-apa ku
kutunggu tirtamu
karena desah
masih menyisakan rindu
di sela paru-paruku

Blokagung, 20 Juni 2009



Suaraku

aku termangu menatapmu, gadis
berpikir kapan kau dengar suaraku
sedang hujan demikian deras
dan angin demikian bising
atau kutunggu saja
hujan berganti dan angin berhenti?
Sedang aku tahu,
saat itu, kau telah menutup telinga ...

Blokagung, 20 Juni 2009


Takut

aku duduk menelungkup
kala hujan itu datang
deras tak terkira

aku takut kesendirianku
tapi bagaimana,
sedang sendiri adalah aku?

yang menelungkup diantara semak-semak kehidupan
dilingkup hujan, bukan saqiya rohmatin.

Blokagung, 20 Juni 2009


Lari

Kemana lagi?

Ke utara, atau ke selatan?
Atau ke timur?

Tidak! Tidak! Di timur ia ada!

-Ke kiri saja!-

Dia ada di sana

-Ke kanan!-

Dia juga ada

Ke mana?

Blokagung, 20 Juni 2009


Tandamu

tujuh purnama lewat
tak pernah secercah pun
malam terang

ataukah buta mata
tertutup angkuh
yang membungkusnya?

atau bulan
tak pernah bersinar
selama masa tujuh purnama?

daun hatiku gemerisik
aku menanti sahara basah

Blokagung, 20 Juni 2009


Sok

tak jelas makna
-kau kata-

berbusa-busa
-kau kata-

Bisakah jelas makna tak berbusa?

Blokagung, 20 Juni 2009


Saat Berlabuh

karena bayu telah mengembun
(sisa dukaku semalam)
jatuh di sudut bibirku
kini aku berlabuh

“Tuhan, telah merunduk aku
mencium tanah-Mu.”

Blokagung, 20 Juni 2009


tersenyum

seperti kala itu
aku tersenyum
oleh mawar di bibirmu
biar sudah
tak perlu merajuk
mawar itu untukku
karena tiap desah nafas tahu
mawar selalu terselip
di antara bibirmu

kini pun
-lagi-lagi-
aku tersenyum
oleh melati di tubuhmu
harumnya mengalir pada tiap pijakmu
semerbak di katamu
mewangi di lakumu
di sejumput tiapmu

sungguh
aku tersenyum olehmu

Blokagung, 20 Juni 2009



Menantimu

Gadis,
bersama resah
aku duduk di sini
menanti tetes tirta itu
darimu

sekian detik
aku berada pada ruang indah itu
mendapatimu
dengan harum mawar
semerbak di belahan rambutmu

langit cerah, Gadis
sampai kini masih kucium
semerbak harum mawar
di belahan rambutmu
di ruang itu

sekian!
sesudahnya
nyata berontak
menyeretku kembali ke ruang tunggu

di sini
aku masih menantimu
jauh dari ruang indah itu

aku berjanji
esok, akan kubangun ruang indah itu
selain hilang oleh katamu

“wangi mawar
tak pernah ada
di belahan rambutku.”

Blokagung, 20 Juni 2009

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda