Meringis
Mungkin benar, cukup dunia makna menjadi media muhasabah bagi kita, media menghitung-hitung seberap
a amal yang tengah kita lakukan, seberapa jauh kita mengenal diri kita, media intropeksi diri bagi kita. Pasalnya, apa yang ada pada kenyataan, tak selamanya menjadi indikasi yang nyata begitu kita benar-benar telah mengarungi kehidupan yang sebenarnya. ‘Kehidupan yang sebenarnya’ di sini adalah kehidupan sekeluar dari pesantren, yang saya maksud.Seorang ustad yang cukup dekat dengan saya, dengan begitu halusnya mengatakan pada saya, bahwa apa yang kini tengah diraihnya di pesantren, kedudukan, gelar ustad, dan segala kehormatan yang disematkan di pundaknya, semata-mata bukan indikator mutlak bahwa kelak di masyarakat, ia pun akan memiliki seperti apa yang ia miliki di pesantren. Tidak sama sekali.Maka, seberapa benar asumsi bahwa keberhasilan di pesantren tak memiliki indikasi keberhasilan kelak di masyarakat?
Terus terang, saya tak bisa mengukurnya. Tapi minimal, masih dari ustad yang cukup dekat dengan saya tersebut, keduanya, antara kehidupan di pesantren dan kehidupan dalam masyarakat, sangat berbeda jauh. Mulai dari keberagaman masyarakat, pola pikir, tujuan, dan latar belakangnya. Bisa kita bandingkan langsung dengan masyarakat pesantren yang penuh dengan keseragaman, bukan keberagaman. Keseragaman tujuan, juga keseragamaan pandangan.
“Lho kok ... bukankah sangat berbeda saya dengan kamu? Cara mikir beda, pandangan juga beda. Kamu mikirnya selalu dari sisi yang paling simpel ke yang paling sulit. Nah, aku mikirnya dari yang paling sulit, lalu merambah ke yang paling mudah. Lantas, gimana hal itu bisa dikatakan seragam? Tujuan juga jelas gak seragam. Kamu mondok dengan satu tujuan, biar bisa pegang banyak uang. Dia mondok sebagai pelarian frustasinya di rumah. Sedang aku mondok punya tujuan, biar bisa kenal sama mbak pondok yang sholehah itu. Dimana letak seragamnya, coba? Kulit apa lagi, orang kulitmu hitam gitu!”
Nggih ... nggih ... saya mengerti. Ngeten ... keseragaman yang saya maksud di sini adalah keseragaman di pandang dari muqtado dhohirnya. Bukan yang khuruj 'an muqtadlodzohir. Artinya, secara lumrah, tujuan kita mondok adalah satu, mencari ilmu. Itu saja.
Tapi kemudian, kalau hal itu bercabang menjadi ‘pingin pegang uang’, ‘pelarian frustasi’, atau yang pingin kenal sama mbak pondok yang sholehah, itu adalah tujuan-tujuan yang tidak lumrah. Tapi bisa diikutsertakan ... gitu saja. Persis seperti orang membuat meja yang katutan kolong mej
anya.Kembali ke soal, Saudara .... Keberhasilan yang kita raih di pesantren sebagai indikasi mutlak keberhasilan di masyarakat, akan semakin buram manakala sedikit saja kita mau menelisik, bahwa kita tak memiliki orang yang mengenal kita di masyarakat kita. Masyarakat belum mengenal pasti siapa kita. Kita tak memiliki link untuk mempromosikan diri. Sungguh buram kalau demikian. Kita mesti kembali dari nol. Kita harus kembali mengadaptasikan diri dari awal untuk menjadi bagian dari masyarakat yang kita hadapi. Dan ... bila tidak berhasil, kita akan boyong dari masyarakat. Pindah ke daerah tanpa penghuni. Sangat terpencil.
Demikian saya menganalogkan. Dan ... kembali ke awal, kita perlu muhasabah diri, Saudara-Saudara. Dengan makna, bukan dengan apa yang tengah dan sudah kita miliki. Sudah seberapa ikhlas kita, sudah seberapa wira'i kita, apakah sudah jauh hingga kita tak tahu lagi ikhlas atau tidak segala tindakan kita? Atau masih cetek hingga setiap apa yang kita lakukan, sekonyong-konyong kita sebut ikhlas lantaran telah dilakukan tanpa memungut imbalan?Akhirnya, terlalu banyak pertanyaan yang tak mungkin saya tulis seluruhnya di sini. Dan meringislah, kala kegetiran itu masih kita rasakan! Ternyata kita belum apa-apa. Monggo sareng-sareng muhasabah ....
Blokagung, 12 Mei 2009.
Label: ketika lelah

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda